Sabtu, 16 Januari 2010

nabi sebagai teladan manusia

1
Rasulullah SAW
Sebagai Teladan Kehidupan
Oleh Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A.
MEMAHAMI Sîrah (sejarah hidup) Rasulullah SAW berarti memahami Islam itu
sendiri, karena kehidupan Nabi Allah yang terakhir ini adalah contoh hidup dari
segala aspek ajaran Islam. Bahkan Nabi sendiri dijuluki sebagai The Living Qur’an
(Al-Qur’an Hidup).
Nabi Muhammad SAW adalah satu-atunya tokoh yang mempunyai sejarah
hidup paling lengkap. Tidak ada seorangpun tokoh selain beliau yang semua
kehidupannya, bahkan juga kehidupan keluarga, para sahabat dan lingkungannya
dicatat sedemikian rupa, selengkap-lengkapnya.
Sirah Rasul dalam Al-Qur’an
Sumber pertama sîrah Rasul adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Tetapi berbeda
dengan buku-buku biografi, Al-Qur’an tidak menyajikan sejarah hidup Nabi secara
kronologis dan lengkap, karena Al-Qur’an memang bukanlah sebuah buku biografi.
Al-Qur’an mengungkapkan beberapa fragmen kehidupan para Nabi dan tokoh-tokoh
lain semata-mata untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia. Sehingga yang
utama itu bukanlah sisi biografi atau sejarahnya, tetapi sisi hidayahnya. Sehingga
tidak heran kalau kisah hidup seorang Nabi diungkapkan dalam beberapa tempat dan
kesempatan yang berbeda. Demikian juga halnya dengan kisah hidup Nabi
Muhammad SAW.
2
Beberapa episode kehidupan Nabi digambarkan dalam Surat Adh-Dhuha:
“Demi waktu dhuha dan demi malam ketika hening. Tuhanmu tidak
meninggalkan kamu dan tidak membenci. Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik
bagimu daripada permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya
kepadamu sehingga engkau puas. Bukankah Dia mendapatimu yatim, lalu Dia
melindungi(mu)? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia
memberi(mu) petunjuk? Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu
Dia memberikan (kepadamu) kecukupan? Adapun terhadap anak yatim maka
janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta
maka janganlah kamu menghardiknya.“ (Q.S. Adh-Dhuha 93:1-11)
Setelah sepuluh Surat (bagian Surat) diwahyukan kepada Nabi sejak wahyu
pertama, untuk beberapa lama Jibril AS tidak datang menyampaikan wahyu
sehingga Nabi gelisah dan mulai bertanya-tanya apakah Allah telah meninggalkan
dirinya.
Ada yang berpendapat bahwa kaum musyrikinlah yang memberikan
komentar dengan nada memperolok-olokkan bawa Muhammad telah ditiggalkan dan
dibenci oleh Tuhannya. Muhammad Abduh menolak pandangan demikian, dengan
alasan bagaimana mereka mengetahui ketidakhadiran wahyu, sehingga mereka dapat
memberi tanggapan semacam itu. Menurut Abduh, sebagaimana dikutip M.Quraish
Shihab dalam Tafsir Al-Qur’an al-Karim, Tafsir atas Surat-surat Pendek
Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu (1997:494) yang terjadi adalah karena Nabi
SAW sudah demikian rindu dengan kehadiran wahyu, setelah merasakan manisnya
berhubungan dengan wahyu Ilahi. Dan setiap kerinduan melahirkan kegelisahan.
Setiap kegelisahan melahirkan rasa takut. Rasa takut ini dialami oleh setiap mausia,
3
sedang Rasul adalah manusia, yang hanya berbeda dengan manusia lain dari segi
perolehan wahyu semata-mata, sebagaimana ditegaskan Allah dalam banyak tempat
di dalam Al-Qur’an, seperti: “Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, hanya
saja aku mendapat wahyu.”
Untuk menjawab kegelisahan Nabi itu Allah SWT menurunkan Surat adh-
Dhuha ini. Dengan tegas Allah menyatakan, “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan
tidak membenci”. Masa depan yang akan dijalani Nabi lebih baik lagi daripada masa
lalunya. Baik masa depan di dunia, apalagi di Akhirat nanti. Allah akan memberikan
karunianya kepada Nabi sebagaimana karunia-karunia yang telah diberikan
sebelumnya. Kemudian disebutkan tiga karunia yang diterima Nabi sebelumnya.
Pertama, perlindungan yang diberikan kepada Nabi sebagai seorang anak
yatim melalui pengasuhan kakeknya Abdul Muthallib sampai umur 8 tahun dan
pengasuhan pamannya Abu Thalib sampai beliau dewasa dan berumah tangga. Silih
berganti pengasuh bagi seorang yatim merupakan penderitaan tersendiri dan dapat
membawa dampak negatif bagi perkembangan jiwa seorang anak. Tetapi bagi Nabi,
keyatiman itu tidak sedikitpun memberi dampak negatif, bahkan justru merupakan
anugerah yang sangat besar, karena beliau terbebas dari pengaruh pendidikan ayah
ibu dan para pendidik lainnya. Nabi jelas tidak dipengaruhi oleh bapaknya karena
beliau belum lahir sewaktu Abdullah meninggal dunia, dan tidak pula dari ibunya
karena sejak lahir sampai umur 4 tahun beliau diasuh di Thaif oleh Halimah as-
Sa’diyah dan umur 6 tahun ibunya sudah meninggal . Begitu juga kakeknya Abdul
Muthallib meninggal dunia tatkala Nabi masih berumur 8 tahun. Abu Thalib hanya
memberikan pengasuhan dan perlindungan tapi tidak mengajarkan Islam karena
sampai akhir hayatnya dia tidak beriman kepada Nabi.
Kedua, Allah memberi Nabi petunjuk tatkala beliau sesat. Sebagian mufassir
menyatakan bahwa waktu kecil Nabi pernah tersesat di kawasan Syu’aib Mekkah
lalu Allah mengembalikannya ke tempat kakeknya. Yang lain berpendapat Nabi
pernah tersesat jalan waktu dalam perjalanan ke Syam dengan pamannya, lalu Allah
menunjukkannya jalan kembali kepada pamannya. Penafsiran arti kata sesat secara
fisik (sesat jalan) di atas dilakukan oleh sebagian mufassir karena mereka
berkeberatan menerima kenyataan bahwa Nabi pernah sesat dalam kehidupan
4
sekalipun pada masa sebelum kenabian, karena menurut mereka para Nabi
terpelihara dari segala bentuk kesesatan.
Kita juga akan menolak jika sesat dalam ayat ini diartikan menolak atau
tidak mengikuti jalan yang benar, karena Nabi memang untuk hal-hal seperti itu
ma’shum. Tapi sesat yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah dalam arti
kebingungan karena belum mendapatkan petunjuk dari Allah sebagaimana yang
diisyaratkan dalam Surat Asy-Syura ayat 52:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan
perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Kitab Suci itu (Al-
Qur’an), dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-
Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di
antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk
kepada jalan yang lurus”. (Q.S. Asy-Syura 42:52)
Beliau melihat keyakinan dan prilaku orang-orang musyrik di Mekkah tidak
benar, tetapi bagimana meluruskannya beliau juga tidak tahu, oleh sebab itulah Nabi
bertahannuts di Goa Hira’sampai kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya. Itulah
yang dikatakan oleh Al-Qur’an, kamu dulu tidak mengetahui wahyu (Al-Qur’an) itu.
Itulah yang dimaksud dengan “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung,
lalu Dia memberi(mu) petunjuk”.
Ketiga, Allah memberi Nabi kecukupan rezeki tatkala Nabi mengalami
kekurangan. Nabi kecil adalah seorang miskin. Ayahnya tidak meninggalkan pusaha
baginya kecuali seekor unta betina dan seorang hamba sahaya perempuan. Kemudian
Allah memberinya harta benda berupa keuntungan yang amat besar dari
memperdagangkan harta Khadijah dan ditambah pula dengan harta yang dihibahkan
Khadijah kepadanya dalam perjuangan menegakkan agama Allah. Di atas semua itu
Nabi diberikan kekayaan hati sehingga tidak pernah merasa kekurangan. Di dalam
5
diri nabi bergabung sifat orang miskin yang sabar dan orang kaya yang bersyukur
(al-faqîr ash-shâbir wa al-ghaniy asy-syâkir).
Demikianlah salah satu contoh bagaimana Al-Qur’an mengungkap secara
tidak langsung bagian dari perjalanan hidup Nabi. Dalam bagian lain diceritakan pula
kepedihan-kepedihan dan penderitaan yang dialami oleh Rasulullah SAW dalam
melaksanakan dakwahnya. Begitu pula tuduhan-tuduhan negatif yang digembargemborkan
oleh orang-orang kafir terhadap beliau. Di dalam Al-Qur’an juga
disinggung tetang Isra’ Mi’raj yang dialami Nabi pada tahun penuh duka cita setelah
kematian isteri beliau Khadijah binti Khuwailid dan paman Nabi Abu Thalib. Selain
itu terdapat pula keterangan tentang hijrah Nabi dan peperangan-peperangan penting
yang terjadi setelah hijrah seperti Perang Badar, Uhud, Ahzab, Hunain dan juga
tentang perjanjian Hudhaibiyah dan Fathu Makkah. Demikianlah Al-Qur’an menjadi
sumber pertama sirah Rasul.
Kelengkapan Sirah Rasul
Karena Al-Qur’an tidak mengungkap secara detail dan kronologis tentang
sirah Rasul, maka untuk kelengkapannya digunakan sumber lain yaitu kitab-kitab
hadits seperti kutub tis’ah. Para sahabat Nabi telah memperhatikan dan mencatat
dengan sungguh-sungguh hampir semua kata-kata dan perbuatan Nabi serta
peristiwa-peristiwa yang dialami beliau dalam kehidupannya. Selain kitab-kitab
hadits sumber lain sirah Rasul adalah kumulan sya’ir-sya’ir yang ditulis oleh para
penyair Nabi seperti Diwân Hasan bin Tsâbit dan Abdullah bin Rawâhah. Juga kitabkitab
thabaqât para sahabat seperti Thabaqât Ibn Sa’ad dan buku-buku tarikh seperti
Sîrah ibn Hisyâm, Tarîkh al-Umam wal Mulûk oleh Ath-Thabary, Dalâil an-
,ubuwah oleh Al-Ishafahâni, Ash-Syamâil al-Muhammadiyah oleh Turmudzi dan
lain-lain. Bagi kitab-kitab yang menggunakan metode riwayat tentu saja harus
dikritisi kesahihan sanadnya sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
6
Tujuan Belajar Sirah Rasul
Sirah Rasul dipelajari bukanlah sekadar pengetahuan kesejarahan sematamata,
tetapi yang lebih utama untuk memahami hakekat ajaran Islam yang
terpersonifikasikan dalam kehidupan Rasul Agung Nabi Muhammad SAW. Doktor
Sa’id Ramadhan al-Buthi, dalam Muqaddimah bukunya Fiqh as-Sîrah (1980:17-18)
menyebutkan ada lima tujuan mempelajari Sirah Rasul:
1. Untuk memahami kepribadian Rasulullah SAW yang agung, sehingga
kesadaran dan keyakinan kita bertambah bahwa beliau bukanlah hanya semata
seorang jenius, tapi lebih daripada itu beliau adalah seorang Nabi dan Rasul yang
selalu dibimbing oleh wahyu.
2. Untuk mendapatkan keteladanan yang agung dalam seluruh aspek kehidupan,
sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari
Akhir dan dia banyak menyebut Allah”. (Q.S. Al-Ahzab 33:21).
3. Untuk memahami kandungan Kitab Suci Al-Qur’an, karena banyak ayat
yang turun berhubungan dengan peristiwa yang dialami oleh Rasulullah SAW.
4. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang beberapa aspek ajaran
Islam, baik yang menyangkut aqidah, hukum maupun akhlaq, karena perjalanan
hidup beliau adalah potret hidup yang bersinar dari ajaran Islam itu sendiri.
5. Untuk mendapatkan contoh hidup metode pendidikan dan pengajaran serta
dakwah Islam karena Nabi adalah seorang Guru, Pendidik, dan Da’i yang sangat
berhasil.
7
Metode Fiqh Sirah
Berbeda dengan buku-buku Sirah Rasul yang menguraikan perjalanan hidup
Nabi secara deskriptis kronologis, buku-buku Fiqh Sirah melakukan analisis untuk
setiap episode dan fragmen kehidupan Nabi. Mari kita lihat metode yang digunakan
oleh tiga buku Fiqh Sirah sebagai contoh:
1. Fiqh as-Sirah karya Doktor Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi
Al-Buthi membagi kehidupan Nabi kepada lima bagian: (1) Dari Kelahiran
sampai Awal Kenabian; (2) Dari Awal Kenabian sampai Hijrah; (3) Dasar-dasar
Masyarakat Baru; (4) Fase Perang; (5) Fathu Makkah: Peristiwa Sebelum dan
Hasil Sesudahnya. Setiap bagian dibagi lagi kepada beberapa fasal.
Untuk setiap fasal mula-mula al-Buthi menukilkan ringkasan Sirah Nabi
sesuai judul fasalnya, kemudian menganalisis pelajaran dan hikmah apa yang
dapat diambil dari fakta historis tersebut. Untuk analisisna itu selalu dia beri
judul al-‘ibar wa al-‘izhat.
2. Fiqh Sirah karya Syaikh Muhammad al-Ghazali
Berbeda dengan Al-Buthi, Al-Ghazali tidak memisahkan antara pemaparan data
dengan analisis, tapi antara keduanya terpadu secara utuh. Dia melakukan analisis
sekaligus dengan dukungan data biografis yang ada. Analisisnya dibagi dalam
sembilan bab: (1) Risalah dan Imam; (2) Dari Kelahirannya hingga Pengangkatannya
Sebagai Nabi dan Rasul; (3) Perjuangan Dakwah; (4)Hijrah Umum; (5) Asas
Pembangunan Masyarakat Baru; (6) Perjuangan Berdarah; (7) Priode Baru; (8)
Ummahatul Mu’minin; dan (9) Pulang ke Hariaan Allah.
3. Al-Manhaj al-Haraki li as-Sîrah an-abawiyah karya Munir Muhammad
al-Ghadhba
Ghadban membagi Sejarah Hidup Nabi kepada lima priode: (1) Dakwah dan
Organisasi Rahasia; (2) Dakwah Terbuka dan Organisasi Rahasia; (3)
Mendirikan Negara; (4) Negara dan Pengokohan Tiang Pendukungnya; (5)
Penyebaran Dakwah ke berbagai Penjuru Dunia; dan (6) Jihad Politik dan
Kemenangan Risalah
8
Sama dengan Al-Ghazali Ghadhban memaparkan fakta sejarah sekaligus dengan
melakukan analisis yang lebih difokuskan kepada persoalan pada metode
pergerakan sesuai dengan judul bukunya Metode Pergerakan Sirah ,abi.
Rasulullah SAW Rahmatan Lil ‘Alamin
Dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 107 Allah SWT menegaskan bahwa kedatangan
Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam.
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya’ 21:107)
Kedatangan Nabi adalah rahmat bagi umat manusia, hewan, tumbuhtumbuhan
dan makhluk-makhluk lainnya. Rasulullah membawa ajaran tentang
persamaan, persatuan dan kemuliaan umat manusia, bagaimana tata cara hubungan
manusia sesama manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antara
agama. Rasulullah mengajarkan tentang persaudaraan, perdamaian, keadilan, tolong
menolong, tata hidup berkeluarga, bertetangga dan bermasyarakat dan lain
sebagainya.
Rasulullah SAW melarang manusia berbuat sewenang-wenang, sekalipun
terhadap binatang. Binatang diciptakan antara lain untuk dimafaatkan oleh manusia,
bukan untuk disakiti atau disengsarakan, dan bukan pula untuk diperjudi dan
dipermainkan. Rasulullah mengajarkan, kalau engkau menyembelih binatang ternak,
lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Jangan dicekik, ditusuk atau dipukul.
Sembelihlah dengan pisau yang tajam.
Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada umat manusia untuk
memanfaatkan lingkungan hidup dan menjaga kelestariannya. Dalam peperangan
sekalipun, tentatara Islam dilarang merusak tanaman-tanaman dan tumbuh-tumbuhan
tanpa manfaat.
Akhlaq Rasulullah SAW
Akhlaq Rasulullah dapat sertifikat langsung dari Allah SWT.
9
“Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlaq yang agung” (Q.S.Al-
Qalam 68:4).
Tatkala ‘Aisyah ra, isteri Nabi, ditanya bagaimana akhlaq Nabi, beliau
menjawab:”Akhlaq Nabi adalah Al-Qur’an”. Rasulullah pun menjelaskan bahwa
kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia (H.R. Baihaqi).
Dalam hadits lain Rasulullah menyatakan: “Seorang mukmin menjadi mulia karena
agamanya, mempunyai kepribadian karena akalnya, dan menjadi terhormat karena
akhlaqnya” (H.R.Hakim). Malah Rasulullah mengatakan: “Orang mukmin yang
paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya” (H.R.Tirmidzi).
Akhlaq utama dan mulia itu adalah Akhlaq Rasulullah SAW. Ahmad
Muhammad Al-Hufi telah menulis buku menjelaskan bagaimana akhlaq Nabi.
Karena tidak semuanya bisa diungkap, Al-Hufi menamai bukunya dengan Min
Akhlaq an-,abi (Sebagian dari Akhlaq Nabi). Di antara akhlaq Nabi yang diuraikan
oleh Al-Hufi adalah berani, pemurah, adil, iffah, benar, amanah, sabar, lapang hati,
pemaaf, kasih sayang, mengutamakan perdamaian, zuhud, malu, rendah hati,
musyawarah, kebaikan pergaulan dan cinta bekerja. Tentu saja semua akhlaq
Rasulullah tersebut menjadi tauladan bagi kehidupan kita.

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum pak Ghufron, Bagaimana kabar Bapak?
    http://nurulmaarifsintang.com/ << web yang ini sepertinya sayang tidak dilanjutkan, sudah ada domain yang juga.

    BalasHapus
  2. http://ppmaarif.blogspot.com/ << kalo blog ma'arif yang terbaru ini pak,

    BalasHapus